Yeah! God Bless Kembali Mengaum

JAKARTA, KOMPAS.com – Setelah tidur panjang selama 12 tahun, akhirnya raksasa rock Indonesia, God Bless, bangkit lagi. Lewat album terbaru atau yang keenam, 36, merujuk kepada rentang waktu perjalanan musik mereka di Tanah Air, singa-singa panggung rock itu pun siap mengaum.
Banyak hal menarik bisa dicatat dari kebangkitan God Bless. Salah satunya, Abadi Soesman (keyboard) kembali bergabung dengan Achmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fatah (bas), dan Yaya Moektio (drum). Abadi hengkang dari band tersebut pasca-penggarapan album Cermin, yang fenomenal itu.

God Bless menandai come back mereka dengan tampil dalam perayaan ulang tahun keempat majalah Rolling Stone edisi Indonesia, di kantor majalah tersebut, Jl Ampera No 16, Jakarta Selatan, Kamis (7/5) malam. “God Bless itu band panggung. Kami berkarya dengan anugerah Tuhan. Setelah 12 tahun vakum, sekarang kami sudah berani memperkaya lagi musik Indonesia,” tutur Achmad Albar, yang biasa dipanggil Iyek.

Ian mengatakan, ketidakhadiran mereka dalam industri musik rekaman selama bertahun-tahun bukanlah tanpa alasan. “Selama 12 tahun itu kami matangkan ide dan materi, terbukti pada album 36, yang baru ini,” ungkap Ian. Namun, walaupun lama absen dari dunia rekaman, sambung Iyek, bukan pula berarti ia dan teman-temannya melempem di panggung. Mereka tetap naik ke atas pentas, meski pada acara-acara tertentu saja. “Bisnis kami hanya di industri musik rock ini. Jadi, waktu ini kami habiskan untuk musik rock dan kemajuan God Bless. Tapi, baru kali ini kami berkesempatan buat album lagi,” jelasnya.

Lewat album keenam mereka, God Bless tetap menawarkan musik yang selama ini mereka yakini: rock. “Meski sudah cukup berumur, God Bless sejak awal terbentuk tetap konsisten dengan rock yang diusungnya,” tegas Iyek. “Sampai di usia 36 tahun, kami tetap semangat mengusung rock, ini karena kami jalani dengan semangat,” timpal Ian.

Lepas dari album baru God Bless, menanggapi maraknya band baru dalam negeri, Iyek tak segan-segan mengingatkan para artis musik muda untuk menghasilkan karya orisinal. “Kalau bisa berusahalah untuk membuat yang orisinal. Kalau punya suatu warna musik, coba pertahankan,” pesannya.
Ditambahkannya, saat awal God Bless terbentuk, tak dipungkiri sering mengaransemen lagu mereka dengan mengambil aransemen lagu barat. “Namun, setelah di album kedua God Bless, kami baru menemukan jati diri. Memang, awalnya mencontoh. Itu sudah biasa lah atau lumrah di Indonesia. Tapi, kalau sudah menemukan warna musik sendiri, jangan disia-siakan lah,” papar Iyek. (C7-09)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: